Guru matematika yang Hobi Ngelawak

Guru matematika yang Hobi Ngelawak

271120181647069bc67d927b56bd561296af3342aeaf23.jpg


Matematika menjadi pelajaran yang laling menyenangkan buat saya sejak tahu membedakan huruf dan angka. Bukan tanpa alasan saya menyukainya. Ayah saya ketika saya masih di taman kanak-kanak sudah membiasakan saya bermain dengan angka-angka. Mulai dari puzzle angka, tulisan mebcocokkan angka. Bahkan sebelum masuk ke sekolah dasar, saya sudah sangat paham aturan dasar matematika yaitu tambah, kurang, kali dan bagi.


Memasuki kelas satu sekolah dasar sangat membuat saya penasaran dan tidak sabar. Namun di hati pertama saya malah langsung bosan. Ternyata sekolah uang saya idamkan tidak seindah bayangan saya. Saya pikir saya akan belajar lebih dalam tentang semua termasuk matematika. Ternyata saya hanya disuruh mengikuti gambar garis, bulat dan menulisnya di satu halaman buku. Bahkan beberapa teman masih belajar memegang pinsil yang baik.


Lahir di keluarga demokratis membuat saya tidak sungkan menyampaikab pendapat saya. Bertanya ke guru apa saya bisa belajar yang main? Karena yang ini saya sudah bisa bahkan sudah bisa membaca. Tapi guru saya waktu itu betul-betul membosankan. Tanpa merasa perlu memahami kebutuhan saya dia terus mengajarkan pelajaran yang membosankan itu menurut saya.


Di kelas satu dan dua sekolah dasar, saya bahkan tidak mendapat rangking. Prestasi yang dianggap mencerminkan kepintaran anak. Kalau dari kepintaran jelas saya diatas kawan sekelas tapi saya bosan dengan pelajarannya. Guru mulai membully saya dan mengabaikan saya di kelas. Perlakuan guru saya semakin membuat saya nyaman, karena saya bebas membaca majalah bobo dan komik kesukaan saya di kelas.


Di kelas tiga sekolah dasar, saya mulai menikmati keseruan sekolah. Karena guru saya sangat berbeda metodenya dengan guru sebelumnya. Semua pelajaran diajarkan dengan metode yang menyenangkan. Bahkan berhitung yang saat itu mulai susah menurut teman sekelas dijelaskan dengan gaya santai dan mudah diingat.


Cara guru saya mengajar sangat lah unik, semua pakai permainan dan lelucon. Namun di balik semua leluconnya beliau sangat serius terhadap perkembangan tiap siswanya. Bahkan saya yang terbiasa belajar sambil membawa komik dan membaca komim sangat dimaklumi. Bagi guru saya tersebut, pintar bukan berarti mengikuti semua aturan guru tetapi mampu mengenali kesuakaan kita dan paham cara belajar kita.


Dengan guru saya ini, saya yang nggak pernah juara langsung mendapat juara satu di kelas. Karena beliau memberikan nilai secara objektif bukan berdasarkan anak yang sok manis dan paling penurut. Beliau merupakan sosok pertama selain keluarga saya yabg mebgapresiask cara belajar saya sampai saya selalu mendapat juara satu hingga Sma bahkan kuliah lulus dengan nilai tertinggi.


#thefighter
#kenanganbersamaguru

 

  • SHARE :

POST COMMENT

COMMENTS(0)