Menua Bersamamu

Menua Bersamamu

Sambil memandang senja, kedua pasangan tua itu mulai menelusuri komplek perumahan sambil bergandeng tangan. Bukan tanpa sebab mereka tinggal berdua ditemani oleh seorang asisten rumah tangga.

Semua anaknya sudah merantau dan punya kehidupan sendiri di kota berbeda.
Sama seperti sore sebelumnya, sang istri selalu membuatkan secangkir coklat hangat kesukaan suami dinpagi hari. Ya walaupun mempunya asisten rumah tangga, tapi untuk urusan minum suami tetaplah istrinya yang menyipkan. Dengan senyum selalu berkata, “kalau coklat buatanku pake cinta jadi bakal lebih lezat”.


Ada yang berbeda dengan sore ini, kedua pasangan itu tidak berjalan mengelilingi komplek. Beberapa temannya di taman komplek merasa aneh, karena sangat tidak biasa mereka tidak kelihatan. Kedua pasangan ini sangat ramah kepada semua yang di komplek, termasuk asisten rumah lain atau satpam komplek bahkan pedagang kaki lima sangat mengenal mereka.


Menerawang dan berusaha menahan sesak, sang istri tetap menyemangati suami agar semangat. Pemeriksaan kali ini dimulai dari cek keadaan fisik secara keseluruhan. Nafas yang mulai tidak teratur dan keringat yang membasahi kening sang istri sangat terlihat, sambil sesekali melihat ke arah pintu keluar apa ada yang datang.
Hari kelima, suami sudah menunjukkan perubahan yang lumayan, sudah mulai bisa menggerakkan kaki dan bisa duduk. “kenapa pakai acara ke rumah sakit segala sih beb? Kan cuma kepeleset” sambil menggenggam tangan istri suami mulai komentar. Nggak ada yang lebih penting dari kesehatan kamu, sudah jangan banyak protes ah. Bukannya bahagia diperhatikan istri eh malah dinasehati. Kamu itu lo beb, jangan menganggap sepele kepeleset di usia kita nggak muda ini. Semua bisa fatal lho. Sambil terus bicara sang istri tetap cekatan membersihkan tubuh suami dengan air hangat.


Keduanya memang terbiasa demokratis sejak masih di awal pernikahan. Bahkan kepada semua anaknya mereka juga memberlakukan demokratis yang sehat. Anak-anak bisa memilih kuliah dimana dan dengan siapa menikah tanpa ada paksaan orang tua asal mereka bertanggung jawab dan bahagia.


Pintu kamar dibuka dan terdengar, “masih romantis aja ya mi, padahal uda tua lho. Kalah sama anaknya nih”. “Iya pi, jangan-jangan sengaja ke rumah sakit ya biar dimanja”, timbuh anak keduanya. Ahh sudah, sudah kalian datang langsung deh godain mami. Kedua anaknya langsung memeluk mami dan papinya. Walaupun berada di kota berbeda, tapi mereka sangat perhatian dengan orang tuanya. Karena kemandirian orang tuanya yang memilih untuk tidak tinggal bersama anaknya.

 

  • SHARE :

POST COMMENT

COMMENTS(0)